Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bapak/Ibu guru, kepala sekolah, operator, tenaga kependidikan, atau siapa saja yang sedang berurusan dengan akreditasi sekolah/madrasah, pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah bukti fisik akreditasi.
Kalau sudah mendengar kata “akreditasi”, biasanya ada dua reaksi.
Pertama: langsung buka laptop.
Kedua: setelah laptop dibuka, malah buka YouTube dulu. 😄
Tenang, itu manusiawi. Akreditasi memang sering membuat meja kerja guru mendadak berubah menjadi seperti gudang arsip mini. Ada dokumen pembelajaran, asesmen, jurnal, perangkat ajar, dokumentasi kegiatan, dan berbagai bukti lainnya.
Nah, pada artikel ini kita akan membahas salah satu bagian penting dalam akreditasi, yaitu Perangkat Akreditasi Butir Kinerja Inti Proses Pembelajaran.
Bagi Bapak/Ibu yang sedang mempersiapkan akreditasi, artikel ini diharapkan bisa menjadi bahan referensi sekaligus membantu memahami dokumen apa saja yang perlu dipersiapkan.
Apa Itu Butir Kinerja Inti Proses Pembelajaran?
Secara sederhana, Proses Pembelajaran merupakan salah satu bagian yang digunakan untuk melihat bagaimana satuan pendidikan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar.
Jadi, asesor tidak hanya melihat apakah sekolah memiliki dokumen pembelajaran atau tidak. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana dokumen tersebut benar-benar digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Dengan kata lain, jangan sampai perangkat pembelajaran sudah rapi sekali, tetapi ketika ditanya:
“Bu, ini perangkatnya digunakan bagaimana?”
Jawabannya:
“Sebentar Pak, saya cari dulu di map.” 😄
Akreditasi berbasis kinerja mendorong sekolah untuk menunjukkan kondisi nyata satuan pendidikan. Dalam sistem akreditasi, terdapat beberapa komponen utama, salah satunya adalah Proses Pembelajaran, selain Mutu Lulusan, Mutu Guru, dan Manajemen Sekolah.
Karena itu, persiapan akreditasi sebaiknya tidak hanya dilakukan dengan mengumpulkan dokumen sebanyak-banyaknya.
Yang lebih penting adalah memastikan dokumen tersebut sesuai dengan praktik pembelajaran yang benar-benar dilakukan di sekolah.
Mengapa Perangkat Akreditasi Proses Pembelajaran Penting?
Proses pembelajaran merupakan jantung dari kegiatan sekolah.
Gedung bagus memang penting.
Laboratorium lengkap juga bagus.
Perpustakaan yang nyaman tentu menyenangkan.
Tetapi kalau proses pembelajarannya kurang berjalan, sekolah bisa seperti punya mobil mewah tetapi bensinnya lupa diisi. Mau jalan juga susah. 😄
Melalui komponen proses pembelajaran, sekolah perlu menunjukkan bahwa kegiatan belajar benar-benar dirancang, dilaksanakan, dinilai, dan diperbaiki berdasarkan kebutuhan peserta didik.
Pembelajaran yang baik bukan hanya guru menjelaskan materi dari awal sampai akhir, sedangkan siswa sibuk menghitung kapan bel pulang berbunyi.
Pembelajaran idealnya membuat peserta didik aktif, merasa aman, mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna, dan berkembang sesuai kebutuhannya.
Dalam perkembangan instrumen akreditasi yang lebih baru, perhatian juga semakin diarahkan pada kualitas interaksi pendidik dengan peserta didik, suasana belajar yang aman, pengelolaan pembelajaran yang efektif, pemanfaatan asesmen, serta pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Apa Saja yang Perlu Dipersiapkan?
Untuk menghadapi akreditasi, sekolah sebaiknya menyiapkan dokumen yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran.
Dokumen dapat disesuaikan dengan jenjang dan instrumen akreditasi yang berlaku pada saat pelaksanaan.
Beberapa contoh dokumen pendukung yang umumnya berkaitan dengan proses pembelajaran antara lain:
1. Kurikulum Satuan Pendidikan
Kurikulum satuan pendidikan menjadi salah satu dokumen penting karena menjadi dasar pelaksanaan pembelajaran di sekolah.
Pastikan dokumen tersebut tersedia dan benar-benar menjadi acuan dalam kegiatan pembelajaran.
Jangan hanya disimpan di lemari dan dibuka ketika ada pemeriksaan. Kurikulum seharusnya menjadi pedoman dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran.
2. Perangkat Pembelajaran
Guru perlu memiliki perangkat pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum dan karakteristik peserta didik.
Bentuk perangkat dapat menyesuaikan kurikulum yang diterapkan sekolah.
Pada Kurikulum Merdeka, misalnya, guru dapat menggunakan modul ajar atau perangkat lain yang relevan sebagai bagian dari perencanaan pembelajaran.
3. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran perlu dirancang dengan jelas sehingga guru mengetahui kompetensi yang hendak dicapai peserta didik.
Tujuan tersebut kemudian menjadi dasar dalam menentukan kegiatan pembelajaran dan asesmen.
4. Materi Pembelajaran
Materi yang diberikan kepada peserta didik harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Selain itu, guru dapat menyesuaikan materi dengan tingkat perkembangan, kemampuan, dan kebutuhan peserta didik.
5. Metode dan Strategi Pembelajaran
Guru dapat menggunakan berbagai metode dan strategi pembelajaran.
Tidak harus setiap hari menggunakan metode yang “wah”.
Diskusi sederhana, praktik, demonstrasi, presentasi, proyek, permainan edukatif, pemanfaatan teknologi, dan kegiatan kelompok juga dapat menjadi bagian dari pembelajaran.
Yang terpenting adalah metode tersebut sesuai dengan tujuan dan kondisi peserta didik.
6. Media Pembelajaran
Media pembelajaran juga dapat menjadi bagian dari bukti pelaksanaan proses pembelajaran.
Media tidak harus mahal.
Papan tulis, gambar, benda konkret, video, presentasi, lingkungan sekitar, hingga media digital dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan.
Kadang benda yang ada di sekitar sekolah justru lebih menarik daripada media yang dibuat dengan aplikasi supercanggih.
7. Asesmen atau Penilaian
Asesmen menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Guru perlu mengetahui apakah peserta didik sudah memahami materi atau masih perlu mendapatkan bantuan.
Hasil asesmen sebaiknya tidak berhenti sebagai angka di buku nilai.
Hasil tersebut dapat digunakan untuk menentukan tindak lanjut pembelajaran.
8. Dokumentasi Kegiatan Pembelajaran
Dokumentasi dapat membantu menunjukkan bahwa kegiatan yang direncanakan memang dilaksanakan.
Dokumentasi dapat berupa foto kegiatan, hasil pekerjaan siswa, proyek, portofolio, lembar kerja, atau bentuk bukti lain yang relevan.
Namun perlu diingat, dokumentasi bukan berarti harus memotret setiap detik kegiatan pembelajaran.
Kalau guru sibuk mengambil foto dari awal sampai akhir, nanti yang belajar malah kameranya. 😄
Proses Pembelajaran Tidak Hanya Tentang Dokumen
Ini bagian yang penting.
Dalam mempersiapkan akreditasi, jangan sampai sekolah berpikir bahwa semakin banyak dokumen berarti semakin bagus.
Belum tentu.
Dokumen hanyalah bukti pendukung.
Yang lebih utama adalah praktik nyata pembelajaran.
Misalnya sekolah memiliki perangkat pembelajaran yang sangat lengkap.
Tetapi dalam praktiknya:
- peserta didik tidak mendapatkan kesempatan bertanya;
- pembelajaran hanya satu arah;
- asesmen tidak digunakan untuk memperbaiki pembelajaran;
- kebutuhan peserta didik tidak diperhatikan;
- suasana kelas kurang aman dan nyaman.
Maka dokumen tersebut belum menggambarkan kualitas proses pembelajaran secara utuh.
Karena itu, prinsip yang perlu dipegang adalah:
Dokumen harus menggambarkan praktik nyata, bukan praktik nyata yang dipaksakan mengikuti dokumen.
Tips Mempersiapkan Akreditasi Proses Pembelajaran
Agar persiapan tidak membuat kepala berasap seperti kompor gas, lakukan secara bertahap.
1. Bentuk Tim Persiapan
Libatkan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan pihak lain yang diperlukan.
Jangan semua pekerjaan diberikan kepada satu orang.
Kalau semuanya diberikan kepada operator, nanti operator bukan lagi operator sekolah, tetapi operator segala urusan. 😄
2. Buat Daftar Dokumen
Buat checklist dokumen yang dibutuhkan.
Misalnya:
- Kurikulum Satuan Pendidikan
- perangkat ajar
- tujuan pembelajaran
- asesmen
- hasil belajar
- dokumentasi kegiatan
- karya peserta didik
- portofolio
- program tindak lanjut
- bukti refleksi dan perbaikan pembelajaran
Checklist akan membuat persiapan jauh lebih mudah.
3. Sesuaikan dengan Kondisi Nyata
Jangan membuat dokumen hanya untuk memenuhi permintaan akreditasi.
Dokumen sebaiknya benar-benar mencerminkan kegiatan yang dilakukan guru.
4. Rapikan File Digital
Jika sekolah menggunakan penyimpanan digital, buat folder berdasarkan komponen.
Contohnya:
AKREDITASI
→ 01 Proses Pembelajaran
→ 02 Mutu Guru
→ 03 Mutu Lulusan
→ 04 Manajemen Sekolah
Kemudian di dalam folder proses pembelajaran dapat dibuat subfolder berdasarkan jenis dokumen.
Cara sederhana seperti ini bisa menyelamatkan waktu ketika dokumen dibutuhkan.
5. Jangan Lupa Bukti Nyata
Selain dokumen perencanaan, siapkan bukti pelaksanaan dan hasil pembelajaran yang relevan.
Misalnya hasil karya siswa, asesmen, portofolio, dokumentasi kegiatan, dan bukti tindak lanjut.
Download Perangkat Akreditasi Butir Kinerja Inti Proses Pembelajaran
Bagi Bapak/Ibu yang sedang mencari Perangkat Akreditasi Butir Kinerja Inti Proses Pembelajaran, file referensinya dapat digunakan untuk membantu mempelajari komponen dan bukti yang berkaitan dengan proses pembelajaran.
Sebelum mengunduh, sebaiknya Bapak/Ibu tetap mengecek instrumen dan ketentuan akreditasi terbaru yang berlaku pada tahun pelaksanaan akreditasi sekolah.
Hal ini penting karena instrumen akreditasi dapat mengalami pembaruan.
Perangkat yang beredar di internet, termasuk perangkat yang diterbitkan pada tahun-tahun sebelumnya, sebaiknya digunakan sebagai referensi, bukan langsung dianggap sebagai satu-satunya pedoman terbaru.
Untuk perangkat yang menjadi referensi artikel ini, silakan mengunjungi sumber berikut:
Perangkat Akreditasi Butir Kinerja Inti Proses Pembelajaran — Guru Jugan
Download Perangkat Akreditasi Butir Kinerja Inti Proses Pembelajaran
Jangan Menunggu Akreditasi Baru Berbenah
Satu hal yang sering terjadi adalah sekolah baru mulai sibuk ketika jadwal akreditasi sudah semakin dekat.
Map mulai dicari.
File mulai dikumpulkan.
Folder mulai dibuat.
Printer mulai bekerja lembur.
Dan grup WhatsApp mulai ramai dengan kalimat:
“Bapak/Ibu, mohon segera dikumpulkan hari ini.” 😄
Sebenarnya persiapan terbaik adalah menjadikan dokumentasi pembelajaran sebagai kebiasaan sehari-hari.
Setiap guru melaksanakan pembelajaran dengan baik.
Setiap kegiatan terdokumentasi seperlunya.
Hasil asesmen dianalisis.
Peserta didik yang belum mencapai tujuan mendapatkan tindak lanjut.
Guru melakukan refleksi.
Sekolah melakukan perbaikan.
Dengan begitu, ketika akreditasi datang, sekolah tidak perlu membuat cerita baru.
Cukup menunjukkan apa yang memang sudah dikerjakan.
Penutup
Perangkat Akreditasi Butir Kinerja Inti Proses Pembelajaran dapat menjadi salah satu bahan yang membantu sekolah memahami dan mempersiapkan bukti terkait kualitas proses pembelajaran.
Namun, jangan sampai persiapan akreditasi hanya berfokus pada mengumpulkan file.
Akreditasi pada akhirnya bukan sekadar lomba membuat folder paling rapi.
Yang lebih penting adalah bagaimana sekolah memberikan layanan pendidikan yang baik kepada peserta didik.
Guru merancang pembelajaran dengan baik, melaksanakan pembelajaran secara efektif, menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan, menggunakan asesmen untuk mengetahui perkembangan siswa, serta melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
Kalau semuanya sudah dilakukan, dokumen akan mengikuti.
Kalau dokumennya ada tetapi praktiknya tidak ada, ya… mapnya memang tebal, tetapi isinya bisa bikin asesor bertanya-tanya. 😄
Semoga artikel Download Perangkat Akreditasi Butir Kinerja Inti Proses Pembelajaran ini bermanfaat bagi Bapak/Ibu guru dan sekolah yang sedang mempersiapkan akreditasi.
Semoga proses persiapannya lancar, dokumennya lengkap, file tidak hilang, printer tidak ngambek, dan yang paling penting, mutu pembelajarannya semakin baik.
Semoga bermanfaat. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pondok Pesantren Husnul Khotimah Sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya



