Majelis Dzikir: Taman Surga di Dunia

Majelis Dzikir: Taman Surga di Dunia. Telah berlalu bagi kita sekelumit dari faidah-faidah dzikir. Sudah diketahui pula bahwa faidah dzikir sangat banyak tak dapat dihitung, sangat beragam dan tidak bisa dirangkum. Orang-orang yang menghitung tidak berdaya menghitungnya. Sebagaimana orang-orang yang merangkumnya tak mampu melakukannya. Manusia tak mampu mengetahui seluruhnya dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bagaimana tidak demikian sementara dzikir adalah amalan taqarrub (mendekatkan diri) yang paling agung dan ketaatan yang paling utama. Alangkah banyaknya kandungan yang terdapat dalam dzikir yang berupa faidah-faidah tak terhingga, buah-buah yang ranum, hasil panen yang lezat, makanan tak putus, dan kebaikan yang terus-menerus, baik di dunia maupun di akhirat.

[Majlis yang Sangat Suci]

Majlis-majlis dzikir adalah majlis yang sang suci lagi utama, paling bermanfaat dan tinggi. Ia adalah majlis yang memiliki kedudukan tertinggi di sisi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى , dan menempati posisi yang paling agung di sisi-Nya.

Nash-nash yang disebutkan tentang keutamaan majlis dzikir sangatlah banyak, bahwa ia adalah kehidupan hati, pertumbuhan iman, kebaikan dan kesucian bagi hamba. Berbeda dengan majlis kelalaian, di mana tidaklah seseorang berdiri darinya melainkan disertai kekurangan dalam iman, kelemahan di hati, dan menjadi kerugian dan penyesalan baginya.

Para ulama salaf رَحِمَهُمُ اللهُ sangat perhatian terhadap majlis-majlis ini. Mereka memberikan keseriusan yang sangat terhadapnya. Abdullah bin Rawahah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ misalnya, beliau biasa memegang tangan sahabat-sahabatnya lalu berkata, “Kemarilah, kita beriman sesaat. Marilah kita berdzikir kepada Allah dan menambah keimanan dengan ketaatan pada-Nya, semoga Allah mengingat kita dengan ampunan-Nya.”

Adapun Umair bin Habib al-Khathmiy رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata, “Iman bertambah dan berkurang.” Dikatakan, “Apakah pertambahan dan pengurangannya ?” Dia berkata, “Apabila kita dzikir pada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, memuji-Nya, bertasbih pada-Nya, maka itulah pertambahan iman. Jika kita lalai, menyia-nyiakan, dan lupa, maka itulah pengurangannya.” Atsar-atsar dari mereka tentang masalah ini sangat banyak. [1]

[Taman Surga di Dunia]

Sungguh majlis-majlis dzikir adalah taman-taman Surga di dunia.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, at-Tirmidzi, dan selain keduanya, dari Anas bin Malik رَضِيَ اللهُ عَنْهُ , sesungguhnya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

إِذَا مَررْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْا

“Apabila kalian melewati taman Surga, maka makanlah padanya.”

Mereka (para sahabat) berkata, “Apakah taman surga itu ?

Beliau menjawab :

حِلَقُ الذِّكْرِ

Majlis-majlis dzikir [2]

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Dunya, al-Hakim, dan selain keduanya, dari hadis Jabir bin Abdullah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ dia berkata :

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا أَيًّهَا النَّاسُ اِرْتَعُوْا فِي رِيَاضِ الْجَنَّةِ, قُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ ؟ قَالَ : مَجَالِسُ الذِّكْرِ, ثُمَّ قَالَ : اُغْدُوْا وَرَوْحُوْا وَاذْكُرُوْا, فَمَنْ كَانَ يُحِبُّ أَنْ يَعْلَمَ مَنْزِلَتَهُ عِنْدَ اللهِ فَلْيَنْظُرْ كَيْفَ مَنْزِلَةُ اللهِ تَعَالَى عِنْدَهُ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يُنَزِّلُ الْعَبْدَ مِنْهُ حَيْثُ أَنْزَلَهُ مِنْ نَفْسِهِ

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ keluar menemui kami dan bersabda, “Wahai sekalian manusia, makanlah di taman Surga.” Kami berkata, “Wahai Rasulullah, apakah taman surga itu ?” Beliau bersabda, “Majlis-majlis dzikir.” Kemudian beliau bersabda, “Berangkatlah di waktu pagi dan sore serta berdzikirlah. Barang siapa yang ingin mengetahui kedudukanya di sisi Allah, maka hendaklah dia memperhatikan bagaimana kedudukan Allah di sisinya. Karena Allah menempatkan seorang hamba di sisi-Nya sebagaimana hamba itu menempatkan Allah di sisinya. [3] Hadis ini hasan melalui kedua jalur yang disebutkan ini. [4]

Ibnu al-Qayyim رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Barang siapa yang ingin tinggal di taman surga di dunia, maka hendaklah ia menetap pada majlis-majlis dzikir, karena sesungguhnya ia adalah taman surga.” [5]

[Majlis Para Malaikat]

Majlis-majlis dzikir adalah majlis para malaikat. Tidak ada bagi mereka suatu majlis dari majlis-majlis dunia ini kecuali majlis yang disebut Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى di dalamnya. Seperti dalam ash-Shahihain dari hadis Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ dia berkata, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :

إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً فُضُلًا يَطُوْفُوْنَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُوْنَ أَهْلَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوْا قَوْمًا يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى تَنَادُوْا : هَلُمُّوْا إِلَى حَاجَتِكُمْ قَالَ : فَيَحُفُّوْنَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالَ : فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ تَعَالَى وَ هُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ ـ مَا يَقُوْلُ عِبَادِي ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : يُسَبِّحُوْنَكَ وَ يُكَبِّرُوْنَكَ وَ يَحْمَدُوْنَكَ وَيُمَجِّدُوْنَكَ قَالَ : فَيَقُوْلُ : هَلْ رَأَوْنِي ؟ قَالَ : فَيَقُوْلُوْنَ : لَا وَ اللهِ مَا رَأَوْكَ قَالَ : فَيَقُوْلُ : كَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي ؟ قَالَ : فَيَقُوْلُوْنَ : لَوْ رَأَوْكَ كَانُوْا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً وَ أَشَدَّ لَكَ تَحْمِيْدًا وَ تَمْجِيْدًا وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيْحًا قَالَ : فَيَقُوْلُ : مَا يَسْأَلُوْنِي ؟ قَالَ : يَسْأَلُوْنَكَ الْجَنَّةَ قَالَ : فَيَقُوْلُ : هَلْ رَأَوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَا وَ اللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ : فَيَقُوْلُ : قَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوْا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَ أَعْظَمَ فِيْهَا رَغْبَةً قَالَ : فَيَقُوْلُ : فَمِمَّ يَتَعَوَّذُوْنَ ؟ قَالَ : مِنَ النَّارِ قَالَ : يَقُوْلُ : وَ هَلْ رَأَوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَا وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ : يَقُوْلُ : فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا ؟ قَالَ : يَقُوْلُوْنَ : لَوْ رَأَوْهَا كَانُوْا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً قَالَ : يَقُوْلُ : فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ قَالَ : فَيَقُوْلُ مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ : فِيْهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ إِنَّمَا جَاءَ لِجَاحَةٍ قَالَ : هُمُ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَي بِهِمْ جَلِيْسُهُمْ

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat utama. Mereka berkeliling di jalan-jalan mencari ahli dzikir. Apabila mereka mendapati kaum yang berdzikir kepada Allah, niscaya mereka saling memanggil, ‘Mari kepada keperluan kami.’” Beliau bersabda, “Mereka meliputinya dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit dunia.” Beliau bersabda, “Maka mereka ditanya oleh Rabb mereka sementara Dia lebih tahu tentang mereka. ‘Apa yang dikatakan oleh hamba-hambaKu ?’ Mereka berkata, ‘Mereka bertasbih kepadaMu, bertakbir kepada-Mu, memuji-Mu, dan mengagungkan-Mu.’ Allah berfirman, ‘Apakah mereka melihatku ?’ Mereka berkata, ‘Tidak, demi Allah, mereka belum melihat-Mu.’ Allah berfirman, ‘Bagaimana kalau mereka melihat-Ku ?’ Mereka berkata, ‘Kalau mereka melihat-Mu, niscaya mereka semakin hebat ibadahnya kepada-Mu, lebih gigih memuji dan mengagungkan-Mu, dan lebih banyak bertasbih pada-Mu.’ Allah berfirman, ‘Apa yang mereka minta pada-Ku?’ Mereka berkata, ‘Mereka meminta pada-Mu Surga ?’ Allah berfirman, ‘Apakah mereka telah melihat Surga ?’ Mereka berkata, ‘Tidak, demi Allah wahai Rabb mereka belum melihatnya.’ Allah berfirman, ‘Bagaimana kalau mereka melihatnya ?’ Mereka berkata, ‘Kalau mereka melihatnya niscaya akan semakin bersungguh-sungguh, semakin semangat untuk mencarinya, dan semakin besar keinginan mereka terhadapnya.’ Allah berfirman, ‘Dari perkara apakah mereka meminta perlindungan ?’ Mereka berkata, ‘Dari Neraka.’ Allah berfirman, “Apakah mereka telah melihatnya ?’ Mereka berkata, ‘Tidak, demi Allah wahai Rabb, mereka belum melihatnya.’ Allah berfirman, ‘Bagaimana kalau mereka melihatnya ?’ Mereka berkata, ‘Kalau mereka melihatnya niscaya bersungguh-sungguh lari darinya, dan sangat takut terhadapnya.’ Allah berfirman, ‘Aku persaksikan kamu, sungguh Aku telah memberi ampun untuk mereka.’ Maka salah satu malaikat berkata, ‘Di antara mereka terdapat fulan yang bukan termasuk mereka, hanya saja dia datang karena suatu keperluan.’ Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman, ‘Mereka adalah teman-teman duduk, orang yang menjadikan mereka sebagai teman duduk tidak akan sengsara disebabkan oleh mereka.’” [6]

Jadi, majlis-majlis dzikir adalah majlis para malaikat. Adapun majlis-majlis yang berisi perkataan sia-sia dan kelalaian adalah majlis setan. Begitu pula semua perkara disandarkan kepada bentuknya. Setiap orang akan mengarah kepada apa yang sesuai baginya. Maka hendaklah seorang hamba memilih apa yang paling dia sukai dan lebih patut baginya. Orang yang berdzikir akan menjadikan teman duduknya bahagia. Berbeda dengan orang lalai dan penuh kesia-siaan. Sungguh teman duduknya menjadi sengsara karenanya dan mendapatkan mudharat. [7]

[Memberi Keamanan dari Kerugian dan Penyesalan]

Majlis-majlis dzikir memberi keamanan bagi seorang hamba dari kerugian dan penyesalan di hari Kiamat. Berbeda dengan majlis yang berisi kesia-siaan dan kelalaian. Majlis ini mendatangkan bagi pesertanya kerugian dan penyesalan pada hari Kiamat.

Abu Dawud meriwayatkan melalui sanad yang hasan dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, dari Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , beliau bersabda,

مَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ فِيهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللَّهِ تِرَةً وَمَنِ اضْطَجَعَ مَضْجَعًا لاَ يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللَّهِ تِرَةً

“Barang siapa duduk di suatu tempat dan tidak berdzikir kepada Allah padanya, maka atasnya tirah dari Allah. Barang siapa yang berbaring sedangkan dia tidak berdzikr kepada Allah pada saat tersebut, niscaya atasnya tirah dari Allah [8] Yakni, kekurangan dan kerugian.

[Allah Membanggakan Orang yang Berdzikir]

Di antara kemuliaan majlis dzikir dan ketinggian kedudukannya di sisi Allah, bahwa Allah membanggakan orang-orang yang berdzikir di hadapan para malaikat-Nya, seperti diriwayatkan oleh imam Muslim dalam Shahihnya, dari Abu Sa’id al-Khudri رَضِيَ اللهُ عَنْهُ dia berkata, “Mu’awiyah keluar menuju suatu lingkaran (majlis) di masjid dan berkata, ‘Apa yang membuat kalian duduk-duduk ?” Mereka menjawab, ‘Kami duduk berdzikir kepada Allah.’ beliau berkata, ‘Demi Allah, tidak ada yang membuat kalian duduk kecuali itu ?’ Mereka menjawab, ‘Demi Allah, tidak ada yang membuat kami duduk selain itu.’ Beliau berkata, ‘Ketahuilah, aku meminta kalian bersumpah bukan karena tidak percaya pada kalian. Tidak ada seorang pun yang memiliki kedudukan sepertiku di sisi Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ lalu meriwayatkan hadis lebih sedikit daripada aku. Sungguh Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah keluar menuju suatu lingkaran kumpulan sahabat-sahabatnya lalu bertanya, ‘Apa yang membuat kalian duduk-duduk ?’ Mereka menjawab, ‘kami duduk untuk berdzikir kepada Allah, memuji-Nya atas apa yang diberikan bagi kami berupa petunjuk kepada Islam nikmat-nikmat-Nya untuk kami. Beliau bersabda, ‘Demi Allah, tidak ada yang membuat kalian duduk selain itu ?’ Mereka menjawab, Demi Allah, tidak ada yang membuat kami duduk selain itu.’ Beliau bersabda,

أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيْلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللهَ عَزَّوَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ

Ketahuilah, sungguh aku meminta kalian bersumpah bukan karena tidak percaya pada kalian, akan tetapi Jibril datang kepadaku dan mengabariku bahwa Allah azza wa jalla membanggakan kalian kepada para malaikat. [9]

Kebanggaan Rabb ini menjadi dalil akan kemuliaan dzikir di sisi Allah, kecintaan-Nya terhadapnya, dan bahwa ia memiliki keistimewaan atas amal-amal lainnya. [10]

[Sebab Turunnya Ketenangan]

Majlis-majlis dzikir menjadi sebab turunnya ketenangan, pelimpahan rahmat, dan kerumunan malaikat untuk orang-orang yang berdzikir.

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya, dari Abu Muslim Al-Aghar dia berkata, “Aku bersaksi atas Abu Hurairah dan Abu Sa’id, bahwa keduanya bersaksi atas Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, sungguh beliau telah bersabda :

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ فِي مَجْلِسٍ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَ هُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah suatu kaum duduk dalam majlis yang mereka dzikir pada Allah di dalamnya, melainkan mereka dikerumuni malaikat, dilimpahi rahmat, dan turun atas mereka ketenangan, serta Allah menyebut-nyebut mereka di antara makhluk yang ada di hadapan-Nya.” [11]

[Sebab Terjaganya Lisan]

Majlis-majlis dzikir merupkan sebab yang paling agung di antara sebab-sebab terjaganya lisan, terpelihara dari ghibah (menceritakan orang lain dengan perkara yang mana dia tidak suka apabila hal tersebut disebutkan), namimah (adu domba), dusta, dan perkataan keji lagi bathil. Sebab setiap hamba tak bisa menghindari untuk berbicara. Apabila tidak berbicara dengan berdzikir pada Allah dan perintah-Nya atau kebaikan dan faidah, maka pasti dia akan berbicara dengan perkara-perkara yang diharamkan ini, atau sebagiannya. Barang siapa yang membiasakan untuk berdzikir pada Allah niscaya jadilah lisannya terpelihara dari hal-hal yang bathil lagi sia-sia. Sedangkan orang yang lisannya kering dari dzikir pada Allah, pasti akan mengucapkan semua kebathilan, kesia-siaan, dan hal-hal keji.” [12]

Hanya kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tempat meminta untuk meramaikan waktu-waktu kami dan Anda sekalian dalam ketaatan kepada-Nya. Menyibukkan majlis-majlis kami dan kalian dalam berdzikir, bersyukur, dan memperbaiki peribadatan pada-Nya. Serta melindungi kita dari majlis-majlis kelalaian, kesia-siaan, dan kebatilan. Sungguh Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sebaik-baik tempat meminta. Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى satu-satunya tempat memohon pertolongan. Tidak ada upaya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.

(Redaksi)

Sumber :

Fiqhu al-Ad‘iyyah Wa al-Adz-kar, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr, 1/28-31.

Catatan :

[1] Lihatlah atsar-atsar seperti ini dengan takhrijnya di kitab Ziyadatu Iman Wa Nuqshaanuhu Wa Hukmu al-Iststitsna Fiihi, karya Abdurrazzaq al-Badr, hal. 106, dan sesudahnya.

[2] al-Musnad, 3/150, dan Sunan at-Tirmizi, No. 3510.

[3] al-Mustadrak, 1/494

[4] Lihat : Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, No. 2562.

[5] Al-Wabil Ash-Shayyib, hal. 145.

[6] Shahih al-Bukhari, No. 6408, dan Shahih Muslim, No. 2689.

[7] Lihat al-Wabil Ash-Shayyib karnya Ibnu Al-Qayyim, hal. 146-148.

[8] Sunan Abu Dawud, No. 4856, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani di kitab As-Silsilah ash-Shahihah, No. 87.

[9] Shahih Muslim, No. 2701.

[10] Lihat Al-Wabil Ash-Shayyib, karya Ibnu Al-Qayyim, hal. 148-149.

[11] Shahih Muslim. No. 2700.

[12] Lihat, Al-Wabil Ash-Shayyib, karya Ibnu Al-Qayyim, No. 166.

About admin

Check Also

Keutamaan Dzikir dalam Islam: Jalan Meraih Derajat Tertinggi

Keutamaan Dzikir dalam Islam: Jalan Meraih Derajat Tertinggi

Keutamaan Dzikir dalam Islam: Jalan Meraih Derajat Tertinggi. Dzikir kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah amalan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *