Download Capaian Pembelajaran (CP) Implementasi Kurikulum Merdeka SD Fase C Lengkap
Download Capaian Pembelajaran (CP) Implementasi Kurikulum Merdeka SD Fase C Lengkap

Download Capaian Pembelajaran (CP) Implementasi Kurikulum Merdeka SD Fase C Lengkap

Silahkan Unduh Capaian Pembelajaran (CP) Implementasi Kurikulum Merdeka SD Fase C pada link dibawah ini :
  1. CP IKM B Indonesia Fase C ( Unduh Disini)
  2. CP IKM PPKn Fase C ( Unduh Disini)
  3. CP IKM IPAS Fase C ( Unduh Disini)
  4. CP IKM Matematika Fase C ( Unduh Disini)
  5. CP IKM B Inggris Fase C ( Unduh Disini)
  6. CP IKM PAI BP Fase C ( Unduh Disini)
  7. CP IKM PJOK Fase C ( Unduh Disini)
  8. CP IKM Seni Musik Fase C ( Unduh Disini)
  9. CP IKM Seni Rupa Fase C ( Unduh Disini)
  10. CP IKM Seni Tari Fase C ( Unduh Disini)
  11. CP IKM Teater Fase C ( Unduh Disini)

Capaian Pembelajaran (CP) Implementasi Kurikulum Merdeka SD Fase C menjadi salah satu dokumen penting yang perlu dipahami oleh guru kelas V dan VI SD/MI. Dokumen ini menjadi acuan dalam merancang pembelajaran agar kegiatan di kelas tidak sekadar “yang penting materi selesai”, tetapi benar-benar mengarah pada kompetensi yang perlu dicapai peserta didik.

Bagi Bapak/Ibu guru yang sedang mencari CP Kurikulum Merdeka SD Fase C, artikel ini bisa menjadi tempat untuk memahami konsepnya sekaligus mendapatkan bahan yang dapat digunakan dalam penyusunan perangkat pembelajaran.

Fase C sendiri pada umumnya mencakup kelas V dan VI SD/MI/Program Paket A. Jadi, kalau Bapak/Ibu sekarang mengajar kelas 5 atau kelas 6, selamat datang di fase yang biasanya mulai terasa: anak-anak sudah besar, tetapi kadang tingkah lakunya masih seperti kelas 3. 😄

Ada yang sudah bisa berdiskusi serius tentang cita-cita, tetapi lima menit kemudian rebutan penghapus.

Namanya juga anak-anak.

Justru di situlah tantangan sekaligus keindahan pendidikan.

Apa Itu Capaian Pembelajaran atau CP?

Sebelum membahas Fase C lebih jauh, mari kita samakan pemahaman terlebih dahulu.

Capaian Pembelajaran (CP) adalah kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase. Dalam Kurikulum Merdeka, CP menjadi salah satu dasar bagi guru dalam merancang pembelajaran intrakurikuler.

Sederhananya begini.

Kalau pembelajaran itu seperti perjalanan naik kendaraan, maka CP adalah tujuan besar yang ingin dicapai.

Guru tidak harus selalu membawa peserta didik melalui jalan yang sama persis. Bisa lewat jalan utama, jalan alternatif, menggunakan diskusi, praktik, proyek, permainan edukatif, eksperimen, presentasi, atau kegiatan lain yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Yang penting, arahnya jelas.

Tujuan akhirnya tetap harus tercapai.

Dalam bahasa sederhana:

“Mau lewat jalan mana, silakan. Tapi jangan sampai muter-muter terus sampai bel pulang.”

Hehe.

Karena itu, CP bukan sekadar daftar materi yang harus dihabiskan guru. CP lebih menekankan kompetensi yang perlu dibangun dan dikuasai peserta didik.


Mengenal Fase C dalam Kurikulum Merdeka

Dalam struktur fase pada Kurikulum Merdeka, jenjang SD dibagi menjadi beberapa fase.

  • Fase A: kelas I–II SD/MI
  • Fase B: kelas III–IV SD/MI
  • Fase C: kelas V–VI SD/MI

Dokumen CP resmi untuk mata pelajaran seperti IPAS menunjukkan pembagian tersebut, dengan Fase C diperuntukkan bagi kelas V–VI.

Dengan demikian, Fase C merupakan fase yang sangat penting karena peserta didik berada di penghujung jenjang pendidikan dasar.

Kelas V dan VI bukan sekadar “kelas sebelum SMP”.

Di fase ini anak mulai diarahkan untuk memiliki kemampuan yang lebih kompleks.

Mereka mulai belajar:

  • berpikir lebih kritis;
  • memahami hubungan sebab-akibat;
  • menyampaikan pendapat;
  • membaca informasi secara lebih mendalam;
  • menyelesaikan masalah;
  • bekerja sama;
  • membuat keputusan;
  • melakukan refleksi;
  • serta menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kata lain, guru tidak hanya bertugas membuat anak tahu, tetapi juga membantu mereka memahami, mencoba, menerapkan, dan merefleksikan.


Mengapa CP Fase C Penting bagi Guru SD?

Bagi guru, CP merupakan dokumen yang sangat penting karena menjadi salah satu dasar untuk menyusun pembelajaran.

Namun, perlu dipahami bahwa CP masih bersifat cukup umum. Artinya, CP belum secara otomatis menjadi langkah pembelajaran harian.

Dokumen resmi menjelaskan bahwa CP merupakan target kompetensi, sedangkan pendidik perlu menyusun perangkat yang lebih operasional untuk memandu proses pembelajaran, termasuk alur tujuan pembelajaran.

Jadi alurnya kurang lebih seperti ini:

CP → Tujuan Pembelajaran → Alur Tujuan Pembelajaran → Perencanaan Pembelajaran → Kegiatan Pembelajaran → Asesmen → Refleksi dan Tindak Lanjut

Nah, ini bagian yang sering membuat guru menghela napas panjang.

“Dokumennya banyak, Pak…”

Tenang.

Jangan sampai dokumen pendidikan membuat pendidikan itu sendiri malah terlupakan.

Dokumen memang penting, tetapi ujungnya tetap sama:

bagaimana anak belajar dengan baik.


CP Bukan Sekadar Dokumen untuk Disimpan di Laptop

Ada satu kebiasaan yang cukup manusiawi.

Guru mengunduh dokumen CP.

Kemudian file disimpan.

Nama filenya:

CP Fase C FINAL.pdf

Beberapa minggu kemudian muncul:

CP Fase C FINAL FIX.pdf

Lalu:

CP Fase C FINAL FIX BANGET.pdf

😂

Pada akhirnya file tersebut masuk folder “Perangkat Pembelajaran”, lalu tidak pernah dibuka lagi.

Padahal CP seharusnya bukan hanya menjadi dokumen administrasi.

CP perlu dipahami dan digunakan ketika guru menyusun pembelajaran.

Guru dapat melihat:

“Kompetensi apa yang perlu dicapai anak?”

Kemudian guru bertanya lagi:

“Apa yang harus dilakukan supaya anak sampai ke sana?”

Pertanyaan berikutnya:

“Bagaimana saya tahu bahwa mereka sudah mencapainya?”

Nah, pertanyaan terakhir inilah yang menghubungkan CP dengan asesmen.


Implementasi CP Fase C dalam Pembelajaran

Implementasi CP Fase C sebenarnya tidak harus selalu menggunakan metode yang rumit.

Pembelajaran yang baik tidak harus memakai istilah bahasa Inggris setiap lima menit.

Tidak harus setiap kegiatan disebut:

Project Based Learning, Problem Based Learning, Inquiry Learning, Discovery Learning…

Boleh menggunakan berbagai pendekatan tersebut.

Tetapi yang lebih penting adalah:

apakah peserta didik benar-benar belajar?

Misalnya dalam pembelajaran IPAS.

Guru tidak hanya menjelaskan:

“Air mengalami siklus.”

Kemudian siswa mencatat.

Kemudian guru bertanya:

“Apa yang dimaksud evaporasi?”

Siswa menjawab.

Selesai.

Bisa dibuat lebih menarik.

Guru dapat mengajak siswa mengamati genangan air setelah hujan.

Kemudian bertanya:

“Kenapa genangan ini lama-lama hilang?”

Anak mulai berpikir.

Ada yang menjawab:

“Diserap tanah.”

Yang lain berkata:

“Diminum kucing.”

Yang paling kreatif:

“Dibawa angin, Bu.”

Dari jawaban sederhana tersebut guru bisa mengembangkan diskusi tentang penguapan.

Di situlah pembelajaran menjadi lebih hidup.


CP Fase C untuk Berbagai Mata Pelajaran

Perlu dipahami bahwa CP tidak hanya satu dokumen untuk seluruh mata pelajaran.

Dalam pendidikan dasar dan menengah, CP disusun untuk setiap mata pelajaran.

Karena itu, ketika guru mencari CP Fase C, sebaiknya memperhatikan mata pelajaran yang dibutuhkan.

Misalnya:

  • CP Bahasa Indonesia Fase C
  • CP Matematika Fase C
  • CP IPAS Fase C
  • CP Pendidikan Pancasila Fase C
  • CP Pendidikan Agama Fase C
  • CP PJOK Fase C
  • CP Seni Fase C
  • dan mata pelajaran lainnya sesuai struktur kurikulum yang diterapkan satuan pendidikan.

Jadi istilah “CP Fase C” sebenarnya cukup luas.

CP Fase C Bahasa Indonesia tentu berbeda dengan CP Fase C Matematika.

Tujuan akhirnya sama-sama membangun kompetensi peserta didik, tetapi kompetensi yang dikembangkan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing mata pelajaran.


Contoh Implementasi CP Fase C di Kelas

Mari kita ambil contoh sederhana.

Misalnya guru ingin mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memahami informasi.

Guru memberikan sebuah teks pendek mengenai lingkungan.

Jangan langsung:

“Baca halaman 45 sampai 47.”

Lalu anak membaca dengan ekspresi seperti sedang membaca surat keputusan presiden. 😄

Cobalah pendekatan berbeda.

Guru bisa memulai dengan pertanyaan:

“Menurut kalian, kenapa lingkungan sekolah yang kotor bisa membuat belajar menjadi tidak nyaman?”

Anak-anak mulai menjawab.

Ada yang menjawab:

“Bau.”

Ada yang bilang:

“Banyak lalat.”

Ada yang lebih filosofis:

“Karena hati juga ikut kotor.”

Nah, yang terakhir ini guru bisa bingung mau memberi nilai atau minta anak tersebut ceramah. 😂

Setelah diskusi, siswa membaca teks.

Kemudian mereka mencari informasi penting.

Setelah itu membuat kesimpulan.

Kemudian mempresentasikan hasilnya.

Kegiatan seperti ini dapat mengembangkan kemampuan membaca, memahami informasi, berpikir kritis, berkomunikasi, dan bekerja sama.

Learning by doing.

Belajar sambil melakukan.


Guru Tidak Harus Menjadi “Superman”

Implementasi Kurikulum Merdeka juga bukan berarti guru harus selalu membuat pembelajaran spektakuler.

Tidak setiap hari harus membuat proyek besar.

Tidak setiap pembelajaran harus menggunakan teknologi.

Tidak setiap kelas harus memakai LCD.

Kalau listrik mati, jangan sampai pembelajaran ikut mati.

Guru tetap bisa mengajar dengan papan tulis.

Bahkan kadang-kadang pembelajaran paling berkesan justru muncul dari hal sederhana.

Misalnya guru membawa daun, batu, air, tanah, atau benda-benda di sekitar sekolah.

Anak-anak mengamati.

Mereka bertanya.

Mereka berdiskusi.

Mereka membuat kesimpulan.

Sederhana.

Tapi bermakna.

Simple is not always easy, but simple can be powerful.


Peran Asesmen dalam Implementasi CP Fase C

CP dan asesmen memiliki hubungan yang sangat erat.

Guru perlu mengetahui perkembangan belajar peserta didik.

Asesmen bukan hanya untuk menentukan angka di rapor.

Asesmen dapat membantu guru mengetahui:

  • siapa yang sudah memahami materi;
  • siapa yang masih membutuhkan bantuan;
  • bagian mana yang belum dipahami;
  • siapa yang membutuhkan pengayaan;
  • serta strategi pembelajaran berikutnya.

Dalam dokumen implementasi Kurikulum Merdeka, asesmen formatif dapat digunakan untuk memahami kebutuhan belajar peserta didik dan menjadi dasar dalam merancang pembelajaran berikutnya.

Artinya, jangan sampai asesmen hanya menjadi kegiatan:

“Anak-anak, besok ulangan.”

Murid:

“Materinya apa, Bu?”

Guru:

“Semua yang sudah diajarkan.”

Murid:

“😐”

Itu bukan asesmen yang ideal kalau tidak diikuti dengan pemanfaatan hasilnya.

Asesmen seharusnya membantu guru mengambil keputusan.


Asesmen Formatif dan Sumatif

Dalam praktik pembelajaran, guru dapat menggunakan berbagai bentuk asesmen.

1. Asesmen formatif

Dilakukan selama proses pembelajaran untuk mendapatkan informasi tentang perkembangan belajar peserta didik.

Contohnya:

  • pertanyaan lisan;
  • kuis singkat;
  • diskusi;
  • lembar kerja;
  • observasi;
  • presentasi;
  • refleksi;
  • tugas sederhana.

2. Asesmen sumatif

Digunakan untuk melihat pencapaian peserta didik setelah menyelesaikan bagian atau periode pembelajaran tertentu.

Yang penting bukan sekadar bentuk ujiannya.

Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan guru setelah mendapatkan hasil asesmen tersebut.

Kalau 80 persen anak belum memahami materi, jangan malah berkata:

“Wah, anak-anak sekarang memang susah.”

Bisa jadi bukan anaknya yang susah.

Mungkin cara menjelaskannya yang perlu diperbaiki.

Guru juga manusia.

Bisa salah.

Dan itu tidak apa-apa.

Yang penting mau memperbaiki.


Pembelajaran Berdiferensiasi pada Fase C

Peserta didik dalam satu kelas tidak semuanya sama.

Ada anak yang cepat memahami materi.

Ada yang perlu contoh.

Ada yang lebih mudah belajar melalui gambar.

Ada yang senang praktik.

Ada yang suka berbicara.

Ada juga yang ketika ditanya:

“Sudah paham?”

Jawabannya:

“Sudah.”

Ketika diberi soal:

“Pak, ini caranya bagaimana?”

😂

Karena itu, guru perlu mempertimbangkan keberagaman kemampuan dan kebutuhan peserta didik.

Hasil asesmen awal dapat membantu guru mengetahui kondisi kelas.

Dalam tahapan implementasi Kurikulum Merdeka, asesmen formatif dapat digunakan untuk menyesuaikan pembelajaran dengan tahap capaian peserta didik.

Inilah salah satu semangat penting dalam pembelajaran:

teaching at the right level.

Mengajar sesuai tingkat kemampuan dan kebutuhan peserta didik.


Contoh Pembelajaran Fase C yang Sederhana tetapi Bermakna

Misalnya tema pembelajaran berkaitan dengan lingkungan.

Guru dapat membuat kegiatan:

Kegiatan awal

Guru bertanya:

“Apa masalah lingkungan yang paling sering kalian lihat di sekitar sekolah?”

Peserta didik menjawab.

Kegiatan inti

Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.

Mereka melakukan pengamatan sederhana di lingkungan sekolah.

Mereka mencatat:

  • jenis masalah;
  • lokasi;
  • penyebab;
  • dampak;
  • kemungkinan solusi.

Presentasi

Setiap kelompok menyampaikan hasil pengamatannya.

Refleksi

Guru bertanya:

“Setelah melihat kondisi lingkungan sekolah, apa yang bisa kita lakukan mulai hari ini?”

Siswa menuliskan satu tindakan nyata.

Misalnya:

“Saya akan membuang sampah pada tempatnya.”

Kelihatannya sederhana.

Tetapi kalau benar-benar dilakukan, pembelajaran tersebut mempunyai dampak nyata.


Integrasi Karakter dalam Pembelajaran

Pendidikan tidak hanya tentang nilai akademik.

Anak juga perlu belajar:

  • bertanggung jawab;
  • bekerja sama;
  • menghargai pendapat;
  • disiplin;
  • jujur;
  • mandiri;
  • peduli terhadap lingkungan;
  • berani menyampaikan pendapat.

Karena itu, implementasi CP dapat dirancang melalui aktivitas yang memberi ruang bagi peserta didik untuk berpikir dan bertindak.

Guru dapat mengintegrasikan berbagai nilai karakter melalui kegiatan pembelajaran.

Misalnya ketika bekerja kelompok.

Anak belajar bahwa tidak semua pendapatnya harus diterima.

Ia belajar mendengarkan.

Ia belajar berkompromi.

Ia belajar bahwa temannya mungkin memiliki ide yang lebih bagus.

Dan yang paling penting:

belajar bahwa kerja kelompok bukan berarti satu orang kerja, lima orang menonton.

😄


CP Fase C dan Kesiapan Masuk SMP

Fase C juga menjadi tahap penting karena peserta didik kelas VI akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP.

Oleh sebab itu, pembelajaran perlu membantu peserta didik memiliki kemampuan yang semakin mandiri.

Mereka perlu dilatih untuk:

  • membaca informasi;
  • memahami instruksi;
  • menyampaikan pendapat;
  • memecahkan masalah;
  • mengelola tugas;
  • bekerja sama;
  • bertanggung jawab terhadap proses belajar.

Jangan hanya membuat anak pintar menjawab soal.

Buat mereka juga mampu menghadapi persoalan nyata.

Karena setelah lulus SD, hidup tidak selalu menyediakan pilihan jawaban:

A. Benar

B. Salah

C. Semua jawaban benar

D. Semua jawaban salah

Kadang hidup malah memberikan:

“Silakan cari jawabannya sendiri.”

Di situlah kemampuan berpikir dan mengambil keputusan menjadi penting.


Bagaimana Cara Menggunakan Dokumen CP Fase C?

Bagi guru yang baru mulai menggunakan CP, langkahnya sebenarnya dapat dibuat sederhana.

Langkah 1: Baca CP

Jangan hanya mengunduh.

Baca.

Tandai bagian penting.

Pahami kompetensi yang harus dicapai.

Langkah 2: Identifikasi kompetensi

Cari tahu:

“Pada akhir fase, peserta didik diharapkan mampu melakukan apa?”

Langkah 3: Turunkan menjadi tujuan pembelajaran

CP masih bersifat umum.

Guru perlu menguraikannya menjadi tujuan pembelajaran yang lebih spesifik.

Langkah 4: Susun alur tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran kemudian diurutkan agar proses belajar peserta didik berjalan secara logis.

Langkah 5: Tentukan kegiatan pembelajaran

Pilih aktivitas yang sesuai dengan tujuan.

Bisa melalui:

  • diskusi;
  • praktik;
  • eksperimen;
  • proyek;
  • permainan;
  • presentasi;
  • literasi;
  • observasi;
  • pemecahan masalah.

Langkah 6: Siapkan asesmen

Tentukan bagaimana guru mengetahui bahwa tujuan pembelajaran telah tercapai.

Langkah 7: Lakukan refleksi

Setelah pembelajaran selesai, guru bertanya:

“Apa yang berhasil?”

“Apa yang belum?”

“Anak-anak mengalami kesulitan di bagian mana?”

“Apa yang perlu diperbaiki?”

Ini penting.

Karena guru juga perlu belajar dari proses mengajar.


Download CP Implementasi Kurikulum Merdeka SD Fase C

Bagi Bapak/Ibu guru yang membutuhkan dokumen Capaian Pembelajaran (CP) Implementasi Kurikulum Merdeka SD Fase C, dokumen tersebut dapat digunakan sebagai salah satu referensi dalam menyusun perangkat pembelajaran kelas V dan VI.

Dokumen CP dapat membantu guru memahami kompetensi yang menjadi target pembelajaran pada masing-masing mata pelajaran.

Silakan siapkan/unduh dokumen CP Fase C sesuai mata pelajaran yang dibutuhkan.

Dokumen dapat digunakan sebagai bahan untuk:

  • menyusun tujuan pembelajaran;
  • menyusun ATP;
  • mengembangkan modul ajar;
  • merancang kegiatan pembelajaran;
  • menyusun asesmen;
  • menentukan kegiatan pengayaan;
  • menentukan kegiatan remedial;
  • dan mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Catatan: CP disusun berdasarkan mata pelajaran. Jadi, guru sebaiknya menggunakan dokumen CP resmi sesuai mata pelajaran dan jenjang yang diajarkan, bukan mengandalkan satu dokumen umum untuk semua mata pelajaran. Dokumen resmi CP juga menjadi acuan utama untuk pembelajaran intrakurikuler.


Tips Menggunakan CP Agar Tidak Sekadar Menjadi Administrasi

Ada beberapa tips sederhana.

Pertama, jangan membaca CP hanya ketika ada supervisi.

CP bukan dokumen pajangan.

Kedua, pahami kata kerja dalam CP.

Misalnya peserta didik diharapkan mampu:

  • menjelaskan;
  • menganalisis;
  • mengidentifikasi;
  • membandingkan;
  • menyajikan;
  • menerapkan;
  • mengevaluasi.

Setiap kata kerja membutuhkan pengalaman belajar yang sesuai.

Ketiga, hubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata.

Anak akan lebih mudah memahami sesuatu jika mereka menemukan hubungannya dengan kehidupan sehari-hari.

Keempat, berikan kesempatan kepada anak untuk berbicara.

Jangan sampai guru menjadi penyiar radio selama 2 x 35 menit.

Anak juga perlu bicara.

Kelima, gunakan kesalahan sebagai bagian dari pembelajaran.

Salah menjawab bukan berarti gagal total.

Kadang kesalahan justru menunjukkan bagian mana yang perlu diperbaiki.


Jangan Takut Mencoba Hal Baru

Kurikulum boleh berubah.

Dokumen boleh diperbarui.

Aplikasi pendidikan boleh berganti.

Hari ini mungkin menggunakan satu platform, besok platform lain.

Tapi satu hal tetap:

guru tetap menjadi manusia yang berinteraksi dengan manusia.

Teknologi dapat membantu.

AI dapat membantu.

Internet dapat membantu.

Buku dapat membantu.

Namun tidak ada teknologi yang bisa menggantikan hubungan antara guru dan peserta didik secara utuh.

Tatapan guru ketika memberi semangat.

Senyuman ketika anak akhirnya memahami materi.

Ucapan:

“Tidak apa-apa salah, coba lagi.”

Kadang kalimat sederhana seperti itu jauh lebih berharga daripada seribu slide PowerPoint.


Penutup

Capaian Pembelajaran (CP) Implementasi Kurikulum Merdeka SD Fase C merupakan bagian penting dalam perencanaan pembelajaran kelas V dan VI SD/MI.

CP memberikan gambaran mengenai kompetensi yang perlu dicapai peserta didik dalam satu fase. Dalam praktiknya, guru perlu menerjemahkan CP menjadi tujuan pembelajaran yang lebih operasional, menyusun alur pembelajaran, menentukan kegiatan belajar, serta merancang asesmen yang sesuai.

Yang paling penting, jangan sampai implementasi Kurikulum Merdeka hanya berubah menjadi pergantian nama dokumen.

Jangan sampai dulu:

RPP → ganti format

Sekarang:

Modul Ajar → ganti format

Besok:

“Bapak/Ibu, ada aplikasi baru untuk mengisi ini.”

Guru:

“Heueuh deui…” 😄

Dokumen memang penting.

Administrasi juga penting.

Tetapi inti pendidikan tetap berada pada proses belajar peserta didik.

Kalau anak menjadi lebih ingin tahu, lebih percaya diri, lebih mampu berpikir, lebih mandiri, lebih peduli, dan mampu menggunakan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari, maka di situlah semangat pembelajaran benar-benar terasa.

Education is not only about filling minds, but also about shaping how children think, act, and grow.

Semoga artikel dan dokumen CP Kurikulum Merdeka SD Fase C ini dapat membantu Bapak/Ibu guru dalam menyiapkan pembelajaran kelas V dan VI.

Wilujeng ngajar, Bapak/Ibu Guru!

Tetap semangat.

Kalau hari ini anak belum paham, jangan buru-buru menyerah.

Coba lagi besok.

Kalau besok belum paham, coba dengan cara berbeda.

Karena tugas guru bukan membuat semua anak belajar dengan cara yang sama, tetapi membantu setiap anak menemukan jalan untuk berkembang.

Mugia janten pangajaran anu bermakna, pikaresepeun, sareng mangpaat.


Ringkasan Singkat CP Fase C

Jenjang: SD/MI/Program Paket A
Fase: C
Kelas: V–VI
Fokus: pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir fase
Penggunaan: acuan pembelajaran intrakurikuler
Pengembangan lanjutan: tujuan pembelajaran, alur tujuan pembelajaran, perencanaan pembelajaran, kegiatan belajar, dan asesmen.

Baca juga:  Modul Ajar SBK Kelas 1–6 SD/MI: Bahan Ajar Kreatif untuk Guru

About admin

Check Also

Modul Ajar SBK Kelas 1–6 SD/MI: Bahan Ajar Kreatif untuk Guru

Modul Ajar SBK Kelas 1–6 SD/MI: Bahan Ajar Kreatif untuk Guru

Assalamualaikum wr. wb. Kalau mendengar mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan (SBK), yang terbayang biasanya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *