Capaian Pembelajaran (CP) Implementasi Kurikulum Merdeka SD Fase B Lengkap. Bapak/Ibu guru kelas 3 dan 4 SD, kalau mendengar istilah Capaian Pembelajaran atau CP Fase B, jangan langsung membayangkan tumpukan dokumen setebal kamus yang harus dibaca sambil minum kopi tiga gelas. 😁
Memang, ketika pertama kali berhadapan dengan istilah CP, TP, ATP, asesmen, modul ajar, dan istilah lainnya, rasanya seperti masuk ke ruangan yang isinya penuh singkatan.
CP apa?
TP apa?
ATP apa?
Belum lagi administrasi lainnya.
Kadang guru cuma ingin mengajar anak berhitung, tetapi sebelum mengajar harus bertemu dulu dengan berbagai macam dokumen. Wkwkwk.
Padahal kalau dipahami pelan-pelan, konsep Capaian Pembelajaran (CP) sebenarnya cukup masuk akal.
CP merupakan kompetensi pembelajaran yang perlu dicapai peserta didik pada akhir suatu fase. Dalam pembagian fase SD, Fase B umumnya mencakup kelas III dan IV SD/MI/Program Paket A.
Jadi, CP Fase B bukan sekadar daftar materi yang harus dihabiskan guru.
Yang menjadi perhatian utama adalah kemampuan dan perkembangan peserta didik setelah melalui proses pembelajaran.
Apa Itu Capaian Pembelajaran (CP)?
Secara sederhana, Capaian Pembelajaran adalah gambaran kompetensi yang diharapkan dikuasai peserta didik pada akhir fase.
Kalau dibuat bahasa ruang guru:
“Setelah anak belajar selama fase ini, kira-kira anak sudah bisa apa?”
Nah, itulah pertanyaan pentingnya.
Jadi guru tidak hanya bertanya:
“Bab berapa yang sudah selesai?”
Tetapi juga:
“Anak sudah berkembang sampai mana?”
Ini merupakan salah satu perubahan cara pandang dalam Kurikulum Merdeka.
Pembelajaran tidak semata-mata mengejar penyelesaian materi, tetapi memperhatikan kompetensi peserta didik.
CP kemudian menjadi dasar bagi guru untuk merancang pembelajaran lebih lanjut, termasuk merumuskan Tujuan Pembelajaran (TP) dan menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP). Ruang GTK juga menyediakan akses CP dan contoh ATP berdasarkan jenjang, mata pelajaran, dan fase.
Mengenal Fase B SD
Fase B merupakan fase yang umumnya diperuntukkan bagi:
Kelas III dan IV SD/MI/Program Paket A.
Secara sederhana pembagian fase di SD adalah:
| Fase | Kelas |
|---|---|
| Fase A | Kelas I-II |
| Fase B | Kelas III-IV |
| Fase C | Kelas V-VI |
Fase B bisa dikatakan sebagai masa ketika anak mulai naik level.
Kalau di kelas 1 dan 2 anak masih banyak membangun kemampuan dasar, di kelas 3 dan 4 mereka mulai diarahkan untuk mengembangkan kemampuan tersebut menjadi lebih kompleks.
Misalnya dalam membaca.
Anak tidak lagi hanya belajar:
“Ini huruf A.”
Tetapi mulai membaca teks, memahami informasi, mencari gagasan, berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan menulis.
Begitu pula matematika.
Tidak hanya:
2 + 3 = 5
Tetapi mulai masuk ke permasalahan yang membutuhkan pemahaman dan penalaran.
Jadi kalau kelas 1 masih belajar menghitung jumlah apel, kelas 4 sudah bisa bertanya:
“Kalau apelnya dibagi rata kepada empat orang, masing-masing dapat berapa?”
Apelnya tetap apel.
Tetapi otaknya sudah diajak jalan-jalan lebih jauh. 😂
Tujuan Implementasi CP Fase B
Implementasi CP Fase B pada dasarnya diarahkan agar peserta didik berkembang secara utuh.
Tidak hanya pintar menjawab soal, tetapi juga mampu menggunakan pengetahuan dan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- kemampuan literasi;
- kemampuan numerasi;
- kemampuan berpikir dan bernalar;
- kemampuan berkomunikasi;
- kemampuan memecahkan masalah;
- kemampuan bekerja sama;
- kreativitas;
- kemandirian;
- tanggung jawab;
- kemampuan memahami lingkungan;
- serta perkembangan karakter.
Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada:
“Anak dapat nilai 90.”
Tetapi juga:
“Anak memahami apa yang dipelajari dan mampu menggunakannya.”
Nilai 90 tentu bagus.
Tetapi kalau soal:
“Bagaimana cara menghitung uang kembalian?”
anak langsung menyerahkan kalkulator kepada guru, berarti masih perlu latihan. Wkwkwk.
Capaian Pembelajaran Bahasa Indonesia Fase B
Bahasa Indonesia menjadi salah satu kemampuan penting pada Fase B karena literasi menjadi dasar untuk mempelajari banyak hal lainnya.
Dalam CP Bahasa Indonesia Fase B, peserta didik diarahkan untuk memiliki kemampuan berbahasa untuk berkomunikasi dan bernalar, memahami serta menyampaikan gagasan dari teks informatif, mengungkapkan gagasan dalam kerja kelompok dan diskusi, memaparkan pendapat secara lisan maupun tertulis, memperkaya kosakata, serta membaca dengan fasih dan lancar.
Artinya, anak mulai diarahkan bukan hanya untuk bisa membaca, tetapi juga memahami apa yang dibaca.
Misalnya setelah membaca sebuah cerita, guru dapat bertanya:
- Siapa tokoh dalam cerita?
- Apa masalah yang terjadi?
- Bagaimana penyelesaiannya?
- Apa pesan yang dapat diambil?
- Bagaimana pendapatmu tentang cerita tersebut?
Di sinilah kemampuan bernalar mulai dikembangkan.
Contoh kegiatan Bahasa Indonesia
Guru dapat menggunakan:
- membaca cerita;
- membaca teks informasi;
- membuat ringkasan;
- bercerita di depan kelas;
- diskusi kelompok;
- membuat pertanyaan;
- menulis pengalaman;
- membuat poster;
- presentasi sederhana.
Anak juga perlu diberi kesempatan berbicara.
Jangan sampai setiap guru bertanya:
“Ada yang mau menjawab?”
Lalu seluruh kelas mendadak sibuk melihat meja.
Meja tidak bertanya, Nak. 😂
Capaian Pembelajaran Matematika Fase B
Matematika pada Fase B mulai mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memahami konsep matematika dan menggunakannya untuk menyelesaikan masalah.
Pembelajaran tidak hanya menekankan hafalan rumus.
Anak perlu memahami mengapa suatu cara digunakan dan bagaimana matematika berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Materi yang dipelajari dapat mencakup berbagai konsep seperti:
- bilangan;
- operasi hitung;
- pecahan;
- pola;
- pengukuran;
- geometri;
- data;
- serta pemecahan masalah.
Contohnya, ketika belajar pecahan, guru tidak harus langsung menulis:
1/2 + 1/4 = …
Guru bisa membawa gambar pizza.
Kemudian pizza dibagi.
Lalu anak diajak mengamati bagian-bagiannya.
Kalau pizzanya asli, biasanya kemampuan matematikanya mendadak meningkat.
Masalahnya, fokusnya kadang pindah dari pecahan ke topping. Wkwkwk.
Yang penting konsepnya dipahami.
Capaian Pembelajaran Pendidikan Pancasila Fase B
Pendidikan Pancasila pada Fase B diarahkan agar peserta didik semakin memahami nilai-nilai Pancasila dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran dapat dikaitkan dengan:
- aturan;
- hak dan kewajiban;
- tanggung jawab;
- keberagaman;
- persatuan;
- gotong royong;
- kehidupan bermasyarakat;
- dan penerapan nilai Pancasila.
Guru dapat memberikan contoh konkret.
Misalnya ketika siswa bekerja dalam kelompok.
Ada yang bertugas menulis.
Ada yang mencari informasi.
Ada yang mempresentasikan.
Ada yang merapikan alat.
Semua memiliki peran.
Dari kegiatan sederhana tersebut anak belajar bahwa kerja sama bukan sekadar teori.
Dan tentu saja ada satu anak yang tugasnya dari awal sampai akhir:
“Aku bagian menyemangati.”
Nah, ini juga harus dibina. 😂
Capaian Pembelajaran IPAS Fase B
IPAS merupakan mata pelajaran yang mengajak peserta didik memahami lingkungan alam dan sosial.
Pada Fase B, pembelajaran dapat dilakukan melalui kegiatan mengamati, bertanya, mencoba, mencari informasi, mengolah informasi, dan menyampaikan hasil pengamatan.
Materinya sangat dekat dengan kehidupan anak.
Misalnya:
- makhluk hidup;
- lingkungan;
- tumbuhan;
- hewan;
- energi;
- benda;
- perubahan lingkungan;
- keluarga;
- masyarakat;
- kehidupan sosial;
- serta berbagai fenomena yang ada di sekitar.
Pembelajaran IPAS sangat cocok menggunakan pendekatan kontekstual.
Misalnya saat membahas tumbuhan, guru tidak hanya menampilkan gambar pohon di layar.
Ajak anak keluar kelas.
Lihat pohon.
Pegang daun.
Amati batang.
Bandingkan bentuknya.
Anak mendapatkan pengalaman langsung.
Kalau akhirnya ada anak yang menemukan cacing dan berteriak, itu bukan kegagalan pembelajaran.
Itu bonus praktikum. Wkwkwk.
Capaian Pembelajaran PJOK Fase B
PJOK pada Fase B tidak hanya berkaitan dengan bermain dan berlari-lari di lapangan.
Peserta didik diarahkan untuk mampu memvariasikan dan mengombinasikan berbagai aktivitas pola gerak dasar serta keterampilan gerak secara lebih mandiri, menerapkan prosedur aktivitas jasmani untuk kebugaran dan pola hidup sehat, serta menunjukkan tanggung jawab personal dan sosial secara konsisten.
Kegiatan dapat meliputi:
- permainan bola;
- aktivitas gerak dasar;
- latihan kebugaran;
- permainan tradisional;
- aktivitas koordinasi;
- pola hidup sehat;
- kerja sama;
- dan berbagai aktivitas jasmani lainnya.
Yang penting, anak tidak hanya bergerak.
Mereka juga belajar:
sportivitas, tanggung jawab, kerja sama, disiplin, dan hidup sehat.
Kalau kalah jangan langsung:
“Pak, bolanya rusak!”
Padahal yang kalah timnya. 😂
Nah, itu juga bagian dari pembelajaran karakter.
Capaian Pembelajaran Seni Fase B
Pembelajaran seni memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan kreativitas, ekspresi, apresiasi, dan keterampilan berkarya.
Dalam Seni Rupa misalnya, pada akhir Fase B peserta didik diarahkan untuk menuangkan pengalaman secara visual sebagai ekspresi kreatif dengan lebih rinci serta mengenal dan menggunakan keterampilan atau pengetahuan dasar dalam berkarya.
Kegiatan dapat berupa:
- menggambar;
- mewarnai;
- membuat karya;
- mengamati karya seni;
- bernyanyi;
- bermain musik;
- menari;
- membuat kerajinan;
- atau aktivitas seni lainnya sesuai mata pelajaran yang diajarkan.
Yang penting guru tidak terlalu cepat mengatakan:
“Gambarnya kurang bagus.”
Karena menurut anak, gambar gunung dua buah, matahari di tengah, jalan lurus, dan sawah hijau itu sudah merupakan karya monumental. 😂
Berikan apresiasi terhadap proses dan kreativitas mereka.
Capaian Pembelajaran Prakarya Fase B
Jika sekolah menyelenggarakan mata pelajaran Prakarya, Fase B juga memberikan ruang kepada peserta didik untuk menghasilkan karya atau produk sederhana sesuai karakteristik mata pelajaran.
Sebagai contoh, pada Prakarya-Pengolahan, Fase B peserta didik diarahkan untuk membuat produk olahan pangan sehat berdasarkan pengamatan bahan, alat, dan langkah-langkahnya serta memberikan tanggapan.
Pada Prakarya-Budi Daya, peserta didik diarahkan menghasilkan produk budi daya untuk kebutuhan diri dan keluarga sesuai potensi lingkungan berdasarkan pengamatan bahan, alat, dan langkah-langkahnya.
Sementara pada Prakarya-Kerajinan, peserta didik diarahkan membuat produk kerajinan sesuai potensi lingkungan dan menjelaskan bahan, alat, serta langkah pembuatannya.
Pembelajaran seperti ini menarik karena anak belajar melalui pengalaman.
Misalnya membuat kerajinan dari bahan sederhana.
Anak belajar merencanakan.
Mencoba.
Salah.
Memperbaiki.
Lalu menghasilkan karya.
Itu sebenarnya sudah latihan problem solving.
Walaupun kadang lemnya lebih banyak menempel di tangan daripada di kertas. Wkwkwk.
Bagaimana dengan Pendidikan Agama dan Budi Pekerti?
Untuk Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, guru perlu menggunakan dokumen CP terbaru sesuai agama yang diajarkan.
Ini penting karena pada 2026 terdapat pembaruan CP yang memang secara khusus menyentuh mata pelajaran Agama dan Budi Pekerti melalui Keputusan Kepala BKPDM Nomor 020 Tahun 2026. Sementara mata pelajaran lainnya tetap mengacu pada CP sebelumnya.
Jadi jangan asal mengambil file CP lama yang ditemukan di grup WhatsApp kemudian langsung dipakai.
Periksa dulu sumber dan tahun dokumennya.
Karena file bernama:
CP TERBARU FIX FINAL TERBARU BANGET.docx
belum tentu benar-benar terbaru. 😂
Dari CP Menuju Tujuan Pembelajaran
Setelah memahami CP, guru tidak langsung mengajar seluruh isi CP sekaligus.
CP merupakan gambaran capaian dalam satu fase.
Guru kemudian perlu memecahnya menjadi tujuan pembelajaran yang lebih operasional.
Contohnya:
CP → Tujuan Pembelajaran → ATP → Kegiatan Pembelajaran → Asesmen
Misalnya dalam Bahasa Indonesia.
CP mengarahkan peserta didik untuk mampu memahami informasi dari teks.
Kemudian guru dapat merumuskan tujuan pembelajaran seperti:
Peserta didik mampu menemukan informasi penting dari teks sederhana yang dibaca.
Setelah itu guru menentukan urutan tujuan pembelajaran.
Kemudian merancang aktivitas.
Misalnya:
- Guru memberikan teks.
- Siswa membaca.
- Siswa menandai informasi penting.
- Siswa berdiskusi.
- Siswa menyampaikan hasil.
- Guru memberikan penguatan.
Nah, sekarang CP sudah berubah menjadi kegiatan nyata di kelas.
Asesmen dalam Implementasi CP Fase B
Asesmen digunakan untuk mengetahui perkembangan belajar peserta didik.
Guru dapat menggunakan berbagai bentuk asesmen sesuai tujuan pembelajaran.
Misalnya:
Asesmen diagnostik
Dilakukan untuk mengetahui kondisi awal peserta didik.
Asesmen formatif
Dilakukan selama proses pembelajaran untuk mengetahui perkembangan dan memberikan umpan balik.
Asesmen sumatif
Dilakukan untuk melihat pencapaian peserta didik setelah suatu periode atau lingkup pembelajaran tertentu.
Yang perlu diingat, asesmen bukan hanya soal pilihan ganda.
Guru dapat menggunakan:
- observasi;
- wawancara;
- praktik;
- proyek;
- tugas;
- presentasi;
- hasil karya;
- jurnal;
- portofolio;
- maupun tes tertulis.
Untuk kelas 3 dan 4, kombinasi berbagai metode tentu bisa membuat informasi perkembangan siswa lebih lengkap.
Pembelajaran Fase B Harus Menyenangkan
Kelas 3 dan 4 merupakan usia ketika anak masih sangat senang bermain, bergerak, bertanya, dan mencoba sesuatu.
Karena itu pembelajaran dapat dikemas melalui:
- permainan edukatif;
- diskusi;
- eksperimen;
- proyek sederhana;
- kerja kelompok;
- presentasi;
- kuis;
- video;
- PowerPoint;
- benda konkret;
- lingkungan sekitar;
- dan berbagai sumber belajar lainnya.
Tidak berarti setiap pembelajaran harus dibuat seperti acara televisi.
Sederhana pun tidak masalah.
Yang penting anak aktif dan memahami apa yang sedang dipelajari.
Guru tidak perlu memaksakan setiap slide PowerPoint memiliki animasi masuk, keluar, terbang, muter, zoom, lalu tiba-tiba muncul suara tepuk tangan.
Itu PowerPoint, bukan konser. 😂
Peran Guru dalam Implementasi CP Fase B
Guru memiliki peran penting dalam menerjemahkan CP menjadi pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Guru perlu:
Pertama, memahami CP mata pelajaran.
Kedua, memahami karakteristik peserta didik.
Ketiga, menentukan tujuan pembelajaran.
Keempat, menyusun alur pembelajaran.
Kelima, menentukan strategi dan media pembelajaran.
Keenam, melakukan asesmen.
Ketujuh, melakukan refleksi.
Dengan demikian, pembelajaran menjadi sebuah proses yang terus diperbaiki.
Kalau hari ini metode diskusi ternyata membuat kelas seperti pasar pagi, jangan langsung menyerah.
Besok bisa dicoba dengan kelompok lebih kecil.
Kalau metode ceramah membuat lima anak menguap bersamaan, mungkin saatnya menambahkan aktivitas.
Guru juga belajar.
Bukan hanya murid.
CP Fase B Bukan Target untuk Menekan Anak
Salah satu hal penting dalam implementasi Kurikulum Merdeka adalah memahami bahwa setiap anak memiliki kemampuan dan kecepatan belajar yang berbeda.
Ada anak yang cepat membaca.
Ada yang jago matematika.
Ada yang hebat menggambar.
Ada yang berani berbicara.
Ada yang diam-diam ternyata sangat kreatif.
Ada juga yang kalau ditanya:
“Sudah paham?”
Jawabannya:
“Sudah.”
Ketika diberi soal:
“Pak… caranya bagaimana?” 😂
Itulah anak-anak.
Mereka masih berkembang.
Karena itu CP seharusnya menjadi arah pengembangan, bukan alat untuk membuat anak takut belajar.
Contoh Implementasi CP Fase B dalam Pembelajaran
Misalnya guru ingin mengajarkan materi lingkungan.
Guru dapat menggabungkan beberapa kemampuan.
Kegiatan awal
Guru mengajak siswa mengamati kondisi lingkungan sekolah.
Kegiatan inti
Siswa bekerja dalam kelompok.
Mereka mencatat:
- kondisi halaman;
- jenis tanaman;
- kebersihan;
- tempat sampah;
- penggunaan air;
- dan kondisi lingkungan lainnya.
Diskusi
Setiap kelompok membahas hasil pengamatan.
Presentasi
Kelompok menyampaikan hasilnya.
Refleksi
Siswa menjawab:
“Apa yang bisa kita lakukan agar lingkungan sekolah lebih bersih?”
Dari satu kegiatan saja sudah dapat muncul banyak kemampuan:
- mengamati;
- membaca;
- menulis;
- berdiskusi;
- bekerja sama;
- berbicara;
- memecahkan masalah;
- dan membangun tanggung jawab.
Itulah pembelajaran yang menghubungkan kompetensi dengan kehidupan nyata.
Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari dalam Implementasi CP
Ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan guru.
1. Jangan hanya mengejar materi
Materi penting, tetapi pemahaman siswa lebih penting.
2. Jangan menjadikan CP sebagai hafalan
CP bukan untuk dihafalkan seperti lirik lagu.
CP perlu dipahami dan diterjemahkan menjadi pembelajaran.
3. Jangan membuat semua anak harus berkembang dengan cara yang sama
Setiap anak memiliki karakteristik berbeda.
4. Jangan hanya menggunakan tes tertulis
Gunakan berbagai bentuk asesmen.
5. Jangan lupa melakukan refleksi
Guru perlu melihat apakah strategi pembelajaran yang digunakan benar-benar membantu siswa.
Cara Mendapatkan CP dan ATP Resmi
Bagi Bapak/Ibu guru yang ingin mencari dokumen CP dan ATP, salah satu sumber resmi yang dapat digunakan adalah Ruang GTK.
Di sana CP dan ATP dapat dicari berdasarkan:
- jenjang pendidikan;
- mata pelajaran;
- dan fase.
Ruang GTK juga menyediakan contoh ATP yang dapat dijadikan inspirasi dalam menyusun pembelajaran sesuai konteks peserta didik.
Jadi kalau sedang mencari CP Fase B, jangan hanya mengandalkan hasil pencarian Google atau file kiriman grup.
Cari sumber resmi.
Lebih aman.
Dan mengurangi risiko menggunakan dokumen yang ternyata sudah berubah.
Kesimpulan
Capaian Pembelajaran (CP) Implementasi Kurikulum Merdeka SD Fase B merupakan acuan penting bagi guru kelas 3 dan 4 dalam merancang pembelajaran.
Fase B umumnya mencakup kelas III dan IV SD/MI/Program Paket A. Pada fase ini, peserta didik mulai mengembangkan kemampuan dasar yang telah dibangun pada Fase A menjadi kemampuan yang lebih kompleks, seperti memahami informasi, bernalar, memecahkan masalah, berkomunikasi, bekerja sama, berkarya, serta menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
CP kemudian menjadi dasar untuk merumuskan tujuan pembelajaran dan menyusun alur pembelajaran.
Guru dapat mengembangkan pembelajaran melalui berbagai metode, media, proyek, praktik, diskusi, permainan, pengamatan, dan kegiatan kontekstual.
Yang paling penting, jangan sampai Kurikulum Merdeka hanya berubah di dokumen.
Di kertas tertulis:
“Pembelajaran berpusat pada peserta didik.”
Tetapi di kelas guru ngomong sendiri dari awal sampai bel pulang. 😂
Merdeka belajar seharusnya benar-benar memberikan ruang kepada peserta didik untuk bertanya, mencoba, berdiskusi, melakukan kesalahan, memperbaiki, berkarya, dan menemukan pemahaman.
Karena pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak halaman buku yang selesai.
Pendidikan adalah tentang seberapa jauh anak berkembang setelah mengikuti proses pembelajaran.
Dan untuk guru, mungkin keberhasilan paling sederhana adalah ketika anak yang awalnya berkata:
“Saya nggak bisa, Bu.”
Beberapa waktu kemudian berubah menjadi:
“Saya coba dulu, Bu.”
Nah, kalimat kedua itu kecil, tetapi maknanya besar.
Karena dari situlah tumbuh keberanian untuk belajar.
Dan kalau anak sudah berani mencoba, tugas guru tinggal menemani, mengarahkan, memperbaiki, dan sesekali mengingatkan:
“Nak, pensilnya jangan dilempar ke teman.” 😂
Itulah pembelajaran yang hidup.
Itulah semangat implementasi CP Fase B.
Dan itulah pendidikan yang tidak hanya mengejar nilai, tetapi membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang mampu berpikir, berkomunikasi, bekerja sama, berkarya, dan menghadapi kehidupan dengan percaya diri.
UNDUH SELENGKAPNYA Capaian Pembelajaran (CP) Implementasi Kurikulum Merdeka SD Fase B
- CP IKM B Indonesia Fase B ( Unduh Disini)
- CP IKM PPKn Fase B ( Unduh Disini)
- CP IKM IPAS Fase B ( Unduh Disini)
- CP IKM Matematika Fase B ( Unduh Disini)
- CP IKM B Inggris Fase B ( Unduh Disini)
- CP IKM PAI BP Fase B ( Unduh Disini)
- CP IKM PJOK Fase B ( Unduh Disini)
- CP IKM Seni Musik Fase B ( Unduh Disini)
- CP IKM Seni Rupa Fase B ( Unduh Disini)
- CP IKM Seni Tari Fase B ( Unduh Disini)
Pondok Pesantren Husnul Khotimah Sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya



